Pages

Kamis, 07 April 2011

Irfan Bachdim (Juga) Tolak Pindah Ke Superliga

Irfan Bachdim tidak ingin ada diskriminasi pemain yang berbeda kompetisi.

Oleh Tegar Paramartha


Irfan Bachdim - Persema Malang (GOAL.com/Aang Kurniawan)


Pemain naturalisasi yang kini membela salah satu klub Liga Primer Indonesia (LPI) yaitu Irfan Bachdim menyatakan bahwa dirinya menolak untuk meninggalkan Persema Malang untuk memenuhi syarat memperkuat tim nasional Indonesia.

Irfan berharap tidak ada diskriminasi terhadap pemain-pemain yang berlaga di LPI dan Superliga Indonesia. Oleh karena itu, Irfan menyatakan siap membela timnas apabila dirinya tidak dengan syarat keluar dari Persema.

"Saya tidak mau berpindah ke Superliga Indonesia sebagai syarat untuk memperkuat Timnas, dan meminta agar tidak ada diskriminasi antara pemain yang berlaga di ISL dan LPI," kata Irfan kepada wartawan.

Irfan menegaskan bahwa dirinya tidak mungkin meninggalkan klub yang membesarkan namanya dan yang telah memberinya kesempatan bermain di Indonesia. Sebelumnya, pemain Persebaya 1927, Andik Vermansyah juga mengungkapkan hal yang sama, yaitu menolak hengkang dari klub yang membesarkannya tersebut.

Sumber :http://www.goal.com/id-ID/news/2980/liga-primer-indonesia/2011/04/07/2430096/irfan-bachdim-juga-tolak-pindah-ke-superliga
»»  BERIKUTNYA...

Tiga Pemain Klub Belanda Perkuat Tim PSSI SEAG 2011



Tiga pemain keturunan Indonesia-Belanda yang masih memperkuat klub Belanda, akan memperkuat timnas SEA Games 2011, usai proses naturalisasinya tuntas Mei nanti.


Pemain keturunan yang akan bermain bersama Yonky Ariwibowo dan kawan-kawan adalah Ruben Wuarbanaran (FC Den Bosch Belanda), Diego Michiels (Go Ahead Eagles Belanda), dan Joy Suk (Go Ahead Eagles Belanda).

"Proses naturalisasinya hampir tuntas. Tinggal menunggu penyerahan paspornya saja," kata Deputi Bidang Teknis Badan Tim Nasional (BTN) Iman Arif di Jakarta.

Menurut Arif, dengan tuntasnya proses naturalisasi, ketiga pemain itu akan bergabung dalam pelatnas yang dipimpin langsung pelatih Alfred Riedl serta jajaran pelatih lainnya.

Sumber: http://forum.detik.com/showthread.php?t=250939?b993306frm
»»  BERIKUTNYA...

FIFA Akui Indonesia Sebagai Peserta Piala Dunia 1938

Kendati saat itu masih bernama Hindia Belanda, Federasi Sepak Bola Dunia FIFA tetap mengakui Indonesia sebagai salah satu peserta piala dunia tahun 1938. Di laman resmi FIFA, Indonesia tercatat sebagai salah satu Negara di dunia yang pernah berpartisipasi di ajang sepak bola paling prestisius di dunia tersebut. Capaian inilah yang merupakan satu-satunya prestasi Indonesia yang didokemntasikan di situs FIFA.

Dalam keikutsertaannya tahun 1938, Indonesia (Hindia Belanda) hanya menjalankan satu pertandingan, yakni saat berhadapan dengan tim tangguh Hongaria. Dalam pertandingan itu, Indonesia kalah telak 0-6. Di Piala Dunia tahun 1938, Indonesia diperkuat campuran pemain lokal, keturunan Tionghoa, dan Belanda.

Para pemain yang memperkuat Hindia Belanda, di antaranya adalah penjaga gawang Mo Heng , Sutan Anwar, Achmad Nawir. Saat tampil di piala dunia, bukan Indonesia Raya yang berkumandang, melainkan lagu kebangsaan Belanda.

Keikutsertaan di Piala Dunia Prancis 1938 merupakan kali terakhir Indonesia tampil di Piala Dunia karena hingga kini tim Garuda selalu gagal masuk putaran Final. Dalam empat kualifikasi Piala Dunia terakhir, Indonesia bahkan gagal di babak awal kualifikasi.

Kini babak kualifikasi Piala Dunia 2014 Brasil telah menjelang. Indonesia dijadwalkan bertemu Turkmenistan di babak ke dua kulifikasi. Jika berhasil melewati Turkmenistan, bukan berarti pekerjaan mudah bagi Boas Solossa cs untuk melangkah ke Brasil.

Tim Nasional harus melewati putaran ketiga dan keempat yang memakai sistem grup. Hanya peringkat pertama dan kedua grup (final zona Asia) yang langsung lolos ke Brasil. Sedangkan peringkat tiga terbaik mendapat kesempatan melakoni laga Playoff melawan juara zona Oseania.

source: republika

»»  BERIKUTNYA...

Surabaya, Selalu Menjadi Neraka Bagi Inggris

Masa silam, Timnas Indonesia cukup sering kedatangan tamu hebat. Mulai dari Dinamo Moskow dengan Vladimir Bubukin-nya, Santos dengan Pele-nya, Tim Nasional Uruguay, hingga dua klub Eredivisie (kompeni) Belanda yakni PSV Eindhoven atau Feyenoord. Lalu ada juga dua klub dari negeri Ratu Elizabeth yaitu Stoke City dan Queen’s Park Rangers, selain itu tak ketinggalan juga Brno (Ceko), Kristiansand (Norwegia), Ebsbjerg (Denmark) untuk datang ke Bumi Nusantara.

Ketika itu di bulan Juni 1983, Arsenal melakukan lawatan ke Indonesia. Namun reputasi klub elite London tersebut masih belum sekeren saat ini. Karena saat itu di Inggris eranya masih eranya Liverpool, Nottingham Forest atau Aston Villa, dan seorang bintang Aston Villa kala itu yakni Peter White, juga pernah menangani Timnas Indonesia pada 2004-2007. Peter White juga pernah mencetak gol tunggal ke gawang Bayern Muenchen saat mengantar klub asal Birmingham tersebut merebut Piala Champions (masih belum bernama Liga Champions) 1981/82, yang sebelumnya digenggam oleh Liverpool.

Niac Mitra Surabaya


Sementara itu The Gunners (julukan Arsenal), melakukan lawatan ke Indonesia dengan membawa kiper legendarisnya Pat Jennings, lalu terdapat juga dua pemain tim nasional Inggris saat itu Kenny Sansom, dan Graham Rix serta David O’Leary. Dan tujuan utama mereka ke Indonesia adalah berlibur ke Bali.

Selama di Indonesia The Gunners berhasil meledakkan PSMS Medan Plus dengan skor 3-0 di Medan, lalu mempecundangi PSSI Selection 5-0 di Senayan. Namun mereka tidak bisa lagi seenaknya meluluh lantakkan Indonesia, karena setelah itu yakni pada 17 Juni 1983 ketika menghadapi juara Galatama, Niac Mitra di Surabaya, dunia membelalakkan mata. Sekarang giliran Arsenal yang dibikin menangis dengan skor 0-2. Prestasi ini jauh lebih membanggakan dibanding ketika menahan 3-3 atas PSV Eindhoven yang masih diperkuat oleh Eric Gerets dan Ruud Gullit di Senayan.

Banyak kabar tak sedap mengiringi kekalahan Arsenal ini, salah satunya adalah Kompas yang pada waktu itu mengabarkan banyak pihak yang mencibir jika kekalahan Arsenal ini memang sengaja dibuat. Salah satunya faktornya adalah dilangsungkannya pertandingan ini pada jam 2 siang (yang memang sangat terik sekali, apalagi untuk ukuran pemain Inggris), atau juga dikeluarkannya Alan Sunderland oleh wasit Ruslan Hatta.

Namun terlepas dari itu publik Stadion 10 Nopember menyebut dua pemain Singapura, kiper David Lee dan Fandi Ahmad, sebagai pahlawan kota Pahlawan. Fandi, yang masih memiliki darah Pacitan ini membuat gol di menit 37, sebelum ditutup Joko Malis di menit 85. Usai membela Niac Mitra, Fandi Ahmad hijrah ke Groningen, karena kebijakan PSSI yang kala itu dipimpin oleh Sjarnoebi Said, melarang keberadaan pemain asing di persepakbolaan (semi) profesional Indonesia (7 Juni 1983). Maka pertandingan ini juga disebut sebagai perpisahan dengan pemain tersebut.

Formasi Niac Mitra saat itu: (G) David Lee; (B) Budi Aswin, Wayan Diana, Tommy Latuperissa, Yudi Suryata; (M) Rudy Kelces, Rae Bawa/Yusuf Malle, Joko Malis, Hamid Asnan/Syamsul Arifin; (F) Fandi Ahmad, Dullah Rahim/Yance Lilipaly.

Dan komposisi Arsenal adalah: Jennings; Hill (Robson), Sansom, Talbot, O’Leary, Whyte (Lee), McDermott, Sunderland, Meade (Chapman), Davis, Rix

Jangankan Persija yang kalah dari Persebaya di partai pamungkas Liga Indonesia, Inggris saja selalu menderita di Surabaya. November 1945, komandan perang Brigjen Mallaby tewas terbunuh oleh para pejuang dalam “Battle of Soerabaia”. Lalu Juni 1983 giliran Arsenal yang dibekap Niac Mitra.

Dengan begitu sebenarnya ada baiknya, PSSI menetapkan saja Surabaya sebagai markas Tim Nasional untuk partai internasional. Karena disinilah Neraka yang sebenarnya bagi Negara Inggris dan para penjajah lainnya…

*Disadur/ dikutip dari berbagai sumber.http://indosoccer.tumblr.com/

»»  BERIKUTNYA...

Sepakbola Indonesia, Sang Macan Asia Yang Tertidur

Seiring semangat kebangsaan yang tercetus dasawarsa 1920-an, Ir. Soeratin Sosrosoegondo mendirikan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk mewadahi kegiatan sepakbola di nusantara sekaligus menjadi salah satu alat perjuangan bangsa. Tanpa inisiatif tersebut, sepakbola Indonesia tidak pernah dikenal di zaman kolonialisasi karena terkotak-kotak ke dalam berbagai bond sepakbola lokal.

PSSI mulai dikhawatirkan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sebagai bentuk upaya menandingi kekuatan PSSI, didirikan Nederlandsh Indische Voetbal Unie (NIVU) pada 1936. Menjelang Piala Dunia Prancis 1938, dibuatlah perjanjian antara kedua pihak untuk mengirim tim perwakilan. Namun, karena tidak menghendaki bendera yang dipakai tim, Soeratin membatalkan secara sepihak perjanjian tersebut. NIVU tetap mengirimkan tim ke Prancis dengan bendera Hindia Belanda. Tim tersebut adalah perwakilan Asia pertama sepanjang sejarah Piala Dunia.



Waktu itu Indonesia di bawah nama “Dutch East Indies” (Hindia Belanda), peserta dari Asia yang pertama kali lolos ke Piala Dunia. Indonesia tampil mewakili zona Asia di kualifikasi grup 12.

Grup kualifikasi Asia untuk Piala Dunia 1938 hanya terdiri dari 2 negara, Indonesia (Hindia Belanda) dan Jepang karena saat itu dunia sepakbola Asia memang hampir tidak ada. Namun, Indonesia akhirnya lolos ke final Piala Dunia 1938 tanpa harus menyepak bola setelah Jepang mundur dari babak kualifikasi karena sedang berperang dengan Cina.

Sayangnya, pada penampilan pertamanya di babak penyisihan Piala Dunia tanggal 5 Juni 1938 melawan tim sepakbola Hongaria (tim yang akhirnya menjadi runner-up Piala Dunia 1938) disaksikan sekitar 9.000 penonton di stadion Auguste Delaune, kota Reims, Perancis, Indonesia di “cukur gundul” oleh Hongaria dengan skor 6-0 dan terpaksa pulang lebih cepat.

Jejak Indonesia sebagai salah satu tim yang disegani di kawasan Asia pun dimulai.

Sepakbola Indonesia memasuki periode keemasan disertai dengan sederetan pemain legendaris Merah-Putih lahir pasca-kemerdekaan, seperti antara lain Ramang, Maulwi Saelan, Suardi Arland, dan Tan Liong Houw. Pada periode yang sama, Indonesia dilatih pelatih legendaris asal Yugoslavia, Tony Pogacnik.

Nama Indonesia mulai diperhitungkan di kawasan Asia saat pasukan Merah-Putih sukses menembus semi-final Asian Games Manila 1954, namun kalah 4-2 dari Taiwan. Pada partai perebutan medali perunggu, Indonesia dikalahkan Burma (kini Myanmar) dengan skor 3-2.

Pada Olimpiade Melbourne 1956, Indonesia juga mengirimkan tim sepakbola. Di babak perempat-final, Indonesia langsung menghadapi favorit juara Uni Soviet. Setelah sempat menahan imbang 0-0, Indonesia takluk 4-0 pada partai ulangan hari berikutnya. Prestasi ini kemudian selalu disebut-sebut sebagai sejarah tertinggi sepakbola Indonesia.

Sepakbola Indonesia, baik Tim Nasionalnya atau klub-klub anggota Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), menyandang predikat “Macan Asia”. Masa keemasan sepakbola Indonesia masih menjadi bagian sejarah masa lalu, era 1960-an hingga 1980-an.

Dulu sepakbola kita Juara Asia, dulu sepakbola kita Macannya Asia…



Bahkan dulu, kompetisi Galatama ditiru habis oleh J-League. untuk masalah manajemen sepakbola, Jepang benar-benar belajar dari Indonesia manakala mereka mempersiapkan J-League. Dulu, kualitas dan karakter pemain kita cukup membanggakan karena berhasil menduduki posisi elite sepakbola Asia.

Bayangkan, tim Asian All Stars 1966-70, Indonesia menyumbang 4 pemain yakni Soetjipto Soentoro, Jacob Sihasale, Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Jepang dan Korea Selatan yang sekarang menjadi pelanggan Piala Dunia pun, ketika itu biasa dipermak rata-rata 4-0. bahkan Taiwan pernah dihancurkan oleh Soetjipto Soentoro dkk dengan skor 11-1 di Merdeka Games 1968.

Jangan cerita soal Thailand, Malaysia dan Singapura, mereka bukan level Indonesia saat itu. Kami dapat membayangkan betapa indahnya kala itu. tapi sekali lagi, itu semua dulu, dulu sekali! Ahh.. Ingin rasanya terlahir di masa itu.

Lalu era 70-an, pada masa itu, muncul sejumlah pemain top, termasuk kwartet Sutjipto Soentoro, Iswadi Idris, Abdul Kadir, dan Jacob Sihasale. Iswadi Idris menjadi pemain sepakbola Indonesia pertama yang dikontrak klub Australia, Western Suburb, pada 1974-1975.

Ketika itu, Indonesia bersama Burma menjadi disegani sebagai macan Asia. Sejumlah negara Asia yang kini sepakbolanya disegani, seperti Jepang dan Korea Selatan, waktu itu boleh dikatakan tidak ada apa-apanya. Sebaliknya, Timnas Indonesia sudah biasa bertemu tim-tim besar seperti PSV Eindhoven, Santos, Fiorentina, Uruguay, Sao Paulo, Bulgaria, Jerman, dan Uni Soviet (kini Rusia).

“Jepang, Korea Selatan dan tim Timur Tengah belum punya cerita. Kekuatan besar dimiliki Indonesia dan Burma.

Berikut, beberapa rekam jejak Tim Nasional dan klub-klub Indonesia saat menjajal kekuatan Eropa/ Dunia:

  • Persija 3-3 Belanda (29 Juni 1951), Persija 3-2 Tionghoa (1 Juli 1951), Persib 0-8 - Futbalski Savez Yugoslavia (1953).
  • Uni Soviet 0-0 Indonesia (Olimpiade 1956), Persib 2-9 Red Star Bratislava Ceko (1958).
  • Yugoslavia 4-2 Indonesia, di Belgrade (9 September 1956), Bond Kroasia 5-2 Indonesia, di Zagreb (16 September 1956).
  • Jerman Timur 3-1 Indonesia, di Chemnitz (20 September 1956), Cekoslowakia B 5-1 Indonesia, di Pilzen (26 September 1956).
  • Persib 0-2 Jerman Timur (Januari 1964), Persib 1-7 Jerman Timur (29 Oktober 1964).
  • Indonesia 0-1 Dynamo Moskow (14 Maret 1970).
  • Indonesia 2-3 Santos. Saat itu Pele pun mencetak 1 gol yang spektakuler (21 Juni 1972).
  • Pertandingan segitiga antara PSSI Selection, Rapid Viena dan Khmrer. (6-10 Januari 1974).
  • Indonesia 2-1 Uruguay (19 April 1974).
  • Turnamen segitiga antara PSSI Tantama, Ajax dan Manchaster United. Hasil akhir Ajax berhasil menjadi juara (1-5 Juni 1975).
  • PSMS 4-2 Ajax, di Stadion Teladan (1975).
  • Indonesia 0-0 Manchester United (1 Juni 1975), PSSI Utama 0-0 Ajax (1981).
  • PSMS Medan Plus 0-3 Arsenal, PSSI Selection 0-5 Arsenal, Niac Mitra 2-0 Arsenal (1983)


Gol Niac Mitra diciptakan oleh Fandi Ahmad di menit 37, sebelum ditutup Joko Malis di menit 85.

  • Tunas Inti 2-3 Corinthians (1984), PSSI Garuda 0-1 Santos (20 Mei 1985), Tim PSSI 2-3 Paraguay (21 Februari 1986).
  • PSIS 0-5 Brazil U-21, di Stadion Citarum Semarang (1986).
  • PSSI A 3-3 PSV Eindhoven. PSV saat itu masih diperkuat oleh Eric Gerets dan Ruud Gullit (14 Juni 1987).
  • Tahun 1987, The Red Devils, MU, bersama kapten besarnya saat itu, Bryan Robson, “mencicipi” rumput Stadion Utama GBK.
  • Tahun itu juga PSV Eindhoven, membawa Ruud Gullit dan Ronald Koeman cs melawan Galatama Selection di Stadion Utama GBK.
  • Persib 0-4 PSV Eindhoven (Maret 1988).




Gol PSV Eindhoven kala itu dicetak oleh Willy Van De Kerkhof, Eric Gerets dan Ruud Gullit 2 gol.

  • Persib 0-8 AC Milan, Surabaya Selection 1-4 AC Milan (1994).
  • Persebaya 1-6 PSV (1995), saat itu Ronaldo masih berumur 18 tahun. Gol tunggal Persebaya dicetak Yusuf Ekodono.
  • Bintang Liga Indonesia 2-6 SS Lazio (1996).
  • Tahun 1996, Sampdoria (Italia) yang kala itu dilatih Sven Goran Eriksson juga “mencicipi” rumput di Stadion Utama GBK. Indonesia kalah 2-3 kala itu.
  • Beberapa waktu setelahnya, Il Samp (Julukan Sampdoria) kembali menjajal Timnas Garuda di Stadion Teladan, Medan. Indonesia berhasil membalas kekalahan, skor akhir 2-1 untuk Indonesia. Gol penentu kemenangan dicetak oleh Peri Sandria.


Hegemoni sepakbola Indonesia mulai beralih ke kawasan Asia Tenggara. Sebelum berpartisipasi dalam SEA Games 1977, Indonesia kerap berlaga di turnamen antarnegara, seperti Merdeka Games Malaysia, Piala Raja Thailand, Piala Aga Khan Bangladesh, atau President Cup Korea Selatan.

Setelah turun di pesta sepakbola Asia Tenggara itu, Indonesia harus menunggu sepuluh tahun sebelum meraih medali emas. Gol tunggal Ribut Waidi ke gawang Malaysia pada babak pertama di Senayan mengukuhkan nama Indonesia sebagai raja Asia Tenggara.

Setahun sebelumnya, Indonesia mengukir kejutan di Asian Games Seoul. Di bawah asuhan pelatih Bertje Matulapelwa, Indonesia meraih tempat keempat. Prestasi yang cukup menggembirakan itu ditambah ketika Sinyo Aliandoe mampu membawa Indonesia selangkah lebih dekat ke Piala Dunia 1986. Namun, Merah-Putih kalah tangguh dibandingkan Korea Selatan yang akhirnya lolos ke Meksiko.

Prestasi Indonesia mulai menukik. Usai Ferril Hattu mengapteni tim memenangi medali emas SEA Games 1991, tidak ada lagi prestasi tinggi yang diraih Merah-Putih.

Terutama ketika mulai 1999, SEA Games diikuti tim U-23. Untuk tim senior Asia Tenggara, Piala AFF, atau dulu dikenal Piala Tigers menjadi ajang prestise tertinggi. Prestasi Indonesia mentok di posisi runner-up. Catatan tersebut diraih tiga kali penyelenggaraan beruntun pada tahun 2000, 2002, dan 2004. Tidak hanya posisi nomor dua, Indonesia menuai hujatan setelah pada Piala Tigers 1998 sengaja mengalah 3-2 ketika melawan Thailand. Pertandingan itu ditandai dengan gol yang disengaja Mursyid Effendi ke gawang sendiri.

Indonesia hanya mampu mencetak kejutan-kejutan yang hanya dapat dianggap sebagai prestasi minor belaka. Empat kali berturut-turut berlaga di Piala Asia, Indonesia hampir selalu menghadirkan kejutan.

Di Uni Emirat Arab 1996, Widodo Cahyono Putro mencetak gol spektakuler yang kemudian dinobatkan sebagai gol terbaik Asia tahun yang sama. Setelah melempem di Libanon 2000, Indonesia sukses membukukan kemenangan pertama di kancah pesta sepakbola tertinggi Benua Kuning itu. Qatar ditekuk 2-1, sekaligus membuat pelatih Philippe Troussier dipecat. Pada edisi terakhir di kandang sendiri, 2007, Indonesia sempat menang 2-1 atas Bahrain. Kalah di dua pertandingan selanjutnya atas Arab Saudi dan Korea Selatan, tapi seperti dimaafkan berkat penampilan yang penuh semangat.

Animo masyarakat pun melonjak tinggi. Prestasi boleh minim, Timnas tetap dicintai. Apapun, catatan tersebut tak lantas menghilangkan seretnya prestasi sepakbola Indonesia. Sudah 17 tahun lebih Indonesia tak lagi meraih gelar bergengsi. Terakhir di Piala AFF 2010, Indonesia kalah tangguh dari Malaysia di Final.

Macan yang dulu mengaum lantang di Asia itu, kini sedang tertidur…


Sumber:http://indosoccer.tumblr.com/post/4388154303/sepakbola-indonesia-sang-macan-asia-yang-tertidur

»»  BERIKUTNYA...